LCGC Terjepit Sandwich Effect di Tengah Perubahan Pasar
Segmen Low Cost Green Car (LCGC) tengah menghadapi tekanan berat. Posisi pasar mobil murah ini semakin terhimpit. Di satu sisi, harganya kian mendekati low MPV (LMPV) dan LSUV. Di sisi lain, kehadiran mobil listrik murah mulai menggerus daya tariknya.
Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu, menyebut kondisi ini sebagai sandwich effect. Menurutnya, LCGC tertekan dari dua arah sekaligus.
Tertekan LMPV dan LSUV di Kelas Atas
Yannes menjelaskan bahwa LCGC semakin sulit bersaing dengan LMPV dan LSUV. Penyebab utamanya adalah kenaikan harga yang terjadi secara bertahap. Saat ini, beberapa model LCGC bahkan telah menembus angka Rp 200 juta.
Akibatnya, jarak harga antara LCGC dan LMPV semakin tipis. Dengan selisih yang tidak terlalu besar, konsumen cenderung memilih mobil berukuran lebih besar dan fungsional.
Diganggu EV Murah dan Mobil Bekas di Bawah
Sementara itu, tekanan juga datang dari bawah. Mobil listrik murah mulai menggoda konsumen muda. Selain itu, pasar mobil bekas turut menjadi alternatif dengan value lebih tinggi.
Menurut Yannes, konsumen muda kini semakin rasional. Mereka mempertimbangkan desain, teknologi, serta citra kendaraan. Hal ini membuat LCGC terlihat kurang menarik dibandingkan pendatang baru.
Penjualan LCGC Anjlok Lebih dari 30 Persen
Tekanan tersebut tercermin pada angka penjualan. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan wholesales LCGC sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 122.686 unit. Angka ini turun 30,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, penjualan ritel juga melemah. Distribusi dari diler ke konsumen tercatat 130.799 unit pada 2025. Jumlah tersebut turun 27 persen dibandingkan 2024.
Konsumen Muda Menuntut Fitur dan Kualitas
Menurut Yannes, penurunan tajam tersebut menandakan pergeseran selera konsumen. Generasi muda kini lebih peduli pada fitur keselamatan, kenyamanan, serta kualitas desain.
Selain ABS dan airbag, aspek peredaman noise, vibration, dan harshness (NVH) juga menjadi perhatian. Di samping itu, kualitas kabin yang terasa lebih premium semakin dicari, meski dengan harga setara.
EV Murah Jadi Alternatif Menggoda
Sebagai contoh, BYD Atto 1 dipasarkan mulai Rp 199 juta OTR Jakarta. Harga ini sangat dekat dengan Toyota Agya G CVT yang berada di angka Rp 197,7 juta OTR. Bahkan, banderolnya lebih rendah dari Honda Brio Satya E CVT yang mencapai Rp 206,7 juta OTR.
Dengan kondisi tersebut, LCGC kehilangan keunggulan value for money. Konsumen pun mulai melirik mobil listrik atau mobil bekas kelas lebih tinggi.
Krisis Diferensiasi Jadi Masalah Utama
Lebih jauh, Yannes menilai masalah LCGC bukan sekadar penurunan permintaan. Menurutnya, segmen ini tengah menghadapi krisis diferensiasi.
Tanpa pembaruan signifikan, LCGC berisiko terus kehilangan pangsa pasar. Terlebih, industri otomotif kini berada di era penuh disrupsi dan perubahan cepat.
