Lonjakan Penjualan BEV Tekan Harga Mobil Baru, Kemenperin Beri Peringatan

Lonjakan Penjualan BEV Tekan Harga Mobil Baru, Kemenperin Beri Peringatan

Harga Mobil Baru Tertekan Akibat Ledakan Penjualan BEV

Lonjakan BEV, Pasar otomotif Indonesia sepanjang 2025 semakin dinamis. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut terjadi pergeseran kompetisi, terutama pada harga mobil baru. Menurutnya, lonjakan penjualan battery electric vehicle (BEV) membuat harga mobil konvensional ikut tertekan.

Dalam gelaran GJAW 2025 di BSD, Airlangga menyebut harga rata-rata mobil baru kini berada di angka Rp300 juta. Bahkan, sejumlah mobil listrik dijual pada kisaran Rp170–190 juta. Kondisi ini belum pernah terjadi sebelumnya di pasar otomotif Indonesia.

Dampak Kompetisi BEV Terhadap Mobil Bensin

Airlangga menegaskan bahwa hadirnya banyak model BEV murah memaksa harga mobil bensin turun. Selain itu, penjualan kendaraan listrik murni tercatat meningkat 18,27 persen. Namun sebaliknya, penjualan mobil bermesin bensin stagnan dan tidak menunjukkan pertumbuhan berarti.

Pandangan Kemenperin: Pertumbuhan BEV Belum Sehat

Meski penjualan BEV melonjak, Kementerian Perindustrian menilai tren tersebut belum menguntungkan industri lokal. Dari total penjualan kendaraan listrik saat ini, 73 persen masih berupa unit impor completely built up (CBU). Akibatnya, industri komponen, nilai tambah lokal, dan penyerapan tenaga kerja belum memperoleh manfaat optimal.

Penurunan Segmen Mobil Konvensional

Kemenperin juga mencatat pelemahan pada beberapa segmen kendaraan berbahan bakar bensin.
– Segmen entry level turun hingga 40 persen.
– Segmen menengah ke bawah turun 36 persen.
– Segmen komersial terkoreksi 23 persen.

Tren ini menunjukkan perlambatan pasar yang cukup serius di luar sektor BEV.

Kemenperin Beri Peringatan Soal Risiko Industri

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengingatkan bahwa tren BEV CBU harus dikawal dengan regulasi yang kuat. Jika tidak, kapasitas produksi pabrik lokal dapat tertekan karena menurunnya permintaan mobil bensin.

Febri menekankan bahwa risiko terbesar bukan hanya pada penjualan, tetapi pada struktur industri nasional. Jika pabrik tidak beroperasi optimal, rantai pasok dari hulu ke hilir dapat terganggu, termasuk investasi jangka panjang.

Ia menegaskan bahwa tanpa intervensi yang tepat, arah perkembangan industri otomotif Indonesia dapat berubah drastis.