Manufaktur Indonesia Tumbuh 4 Persen
Industri manufaktur Indonesia mencatat kinerja positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Berdasarkan data World Bank dan United Nations Statistic, nilai tambah sektor manufaktur (manufacturing value added) Indonesia pada 2024 mencapai USD 265 miliar atau tumbuh 4 persen dibanding tahun sebelumnya.
Peringkat ke-13 Dunia dan ke-5 Asia
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menyampaikan bahwa capaian tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-13 sebagai negara manufaktur terbesar di dunia dan posisi kelima di Asia.
“Posisi kita berada setelah Jepang, India, Korea Selatan, dan China. Ini menjadi bukti bahwa daya saing industri nasional semakin kuat,” ujar Faisol saat menghadiri acara di Tangerang, baru-baru ini.

Kontribusi Tinggi pada PDB
Pertumbuhan sektor manufaktur juga tercermin pada kinerja ekonomi nasional kuartal II 2025. Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,12 persen, sementara industri pengolahan non-migas tumbuh lebih tinggi di level 5,6 persen.
“Kontribusi industri pengolahan non-migas terhadap PDB naik dari 16,72 persen menjadi 16,92 persen pada triwulan II 2025,” tambahnya.
Otomotif Jadi Motor Penggerak
Faisol menilai tren positif ini menegaskan bahwa industri manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Salah satu motor penggerak pertumbuhan berasal dari sektor otomotif, terutama kendaraan roda dua. Sepanjang Januari hingga Agustus 2025, penjualan motor di dalam negeri tercatat 4,26 juta unit, sedangkan ekspor mencapai 366 ribu unit CBU.
“Angka tersebut naik 5,2 persen secara tahunan, menunjukkan kepercayaan pasar global terhadap produk Indonesia semakin meningkat,” jelasnya.
Tantangan Global Tetap Membayangi
Meski begitu, Faisol mengakui bahwa sektor otomotif tidak luput dari tekanan global seperti kenaikan harga bahan baku, gangguan rantai pasok, hingga fluktuasi nilai tukar.
“Produsen tetap berupaya menjaga produksi dan ekosistem industri agar tetap tumbuh,” tegasnya.
Optimisme Pemulihan Pasar
Ia optimistis masa transisi menuju pemulihan ekonomi dapat dihadapi dengan baik.
“Menjelang akhir tahun, tanda-tanda pemulihan pasar sudah mulai terlihat. Kami berharap sektor otomotif dapat kembali mencatat pertumbuhan seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Faisol.
Dorongan Pemerintah untuk Produksi
Pemerintah juga mendorong para pelaku usaha otomotif untuk terus memperkuat proses produksi. Faisol berharap disrupsi geopolitik yang sempat mengganggu ketersediaan bahan baku dan rantai pasok dapat segera teratasi sehingga industri nasional semakin siap menghadapi persaingan global.
